Seruan persatuan umat menggema dalam pengajian Isra’ Mi’raj di Kediri. Majelis taklim Al Ukhuwah Kediri menggelar Tabli...
Seruan persatuan umat menggema dalam pengajian Isra’ Mi’raj di Kediri. Majelis taklim Al Ukhuwah Kediri menggelar Tabligh Akbar untuk memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Kegiatan ini yang mendapat respon luar biasa dari masyarakat Kediri, terlihat dengan antusiasnya ratusan peserta memadati tempat Aula, (Ahad, 17/3/2017). Acara tersebut dihadiri para tokoh dan aktivis dakwah Islam.
Pemateri pertama, Kyai Ali Maksum selaku Pimpinan Majelis Taklim al Ukhuwah dalam sambutannya menyampaikan bahwa, Isra’ Mi’raj merupakan peristiwa penghibur duka yang dialami oleh Rasulullah S.A.W. “Pada bulan Rajab juga Allah SWT menetapkan momen pertemuan pertama kali Nabi saw. dengan kaum Anshar yang mempunyai kemuliaan. Melalui tangan merekalah Negara Islam pertama tegak di Madinah. Dengan itu kesucian darah, harta dan jiwa pun bisa terjaga.” Ungkapnya.
Beliau mengingatkan bahwa hampir tidak ada hari berlalu atau bahkan satu jam, tanpa umat merasakan kebutuhannya akan tubuh yang kuat untuk digunakan.
“Umat merasakan kebutuhan akan negara yang mempertahankannya dalam menghadapi kampanye kolonial sengit yang menargetkannya, untuk menghentikan pertumpahan darahnya, lindungi kehormatannya, lindungi kesuciannya, satukan itu dan akhiri perselisihan sektarian yang menjijikkan dan perbatasan imajiner artifisial yang merobek dan membaginya menjadi beberapa bagian umat.” Imbuhnya.
Pemateri kedua, yakni Ustadz Ahsan, mengingatkan bahwa umat Islam masih tertindas.
“di Palestina, di sana di Suriah, di Irak, Mesir, Libya, Sudan, Yaman, Afghanistan, Myanmar, dan Turkistan Timur ... Di seluruh dunia, umat Islam hidup dalam kondisi sulit, dikelilingi oleh penjajah di mana-mana, dan nasib mereka tumbuh dan kesulitan. diperketat dan umat menunggu solusi dekat dan dekat Subuh.” Paparnya.
Sementara pemateri ketiga, Ustadz Mbah Yai Sobir selaku penasehat
Majelis Taklim Al Ukhuwah menjelaskan bahwa di bulan Rajab adalah hari
peringatan kehancuran Khilafah.
“Kenangan yang menyakitkan, tetapi membawa kabar baik bagi umat yang digunakan untuk bangkit setelah setiap penderitaan, untuk umat yang memegang kunci untuk keberhasilan; ideologi Ilahi dan agenda beradab dan manusia siap untuk berjuang demi Allah dan demi panggilan-Nya, dan menyebarkan pesannya ke dunia.” Tegasnya.
Pada kesempatan selanjutnya, Ustadz Alfan menyampaikan bahwa Khilafah akan menerapkan Islam, yang akan menyelamatkan manusia dari kesengsaraan kapitalisme dan krisis politik dan ekonomi.
“Islam di bawah Khilafah akan mencapai semua penjuru bumi. Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita, dan Allah serta Rasul-Nya itu benar.” Ujarnya.
“Kita sadar akan kehebatan penderitaan dan keseriusan panggung, dan kita melanjutkan dengan kesadaran ini untuk mengatasi kesulitan demi menegakkan Khilafah Rashida (kekhalifahan yang dipandu dengan benar) pada metode kenabian.” Paparnya.
Taujih selanjutnya disampaikan Kyai Abdul Fatah yang mengajak umat untuk hadir dalam kebangkitan dan persatuan.
“Kami memperbarui panggilan untuk semua kekuatan umat untuk memobilisasi energi mereka bersama kami untuk bekerja untuk tujuan besar ini, yaitu tegaknya syariah Islam secara kaffah, mengembalikan martabat kita dan membebaskan kesucian kita dan membawa umat manusia dari kegelapan dan penindasan Kapitalisme, ke keadilan dan rahmat Islam.” Ujarnya.
Ditengah-tengah majelis, puisi dengan judul “Syair Kebangkitan” dibacakan oleh tim Suara Muda Muslim Kediri. Sebuah penampilan luar biasa yang impresif dan menggugah.
Pemateri selanjutnya, ustadz Mahsun menyampaikan bahwa Pada bulan Rajab juga Allah SWT menetapkan momen pertemuan pertama kali Nabi saw. dengan kaum Anshar yang mempunyai kemuliaan.
“Melalui tangan merekalah Negara Islam pertama tegak di Madinah. Dengan itu kesucian darah, harta dan jiwa pun bisa terjaga.” Ungkapnya.
Terakhir, seruan pungkasan ditutup dengan do’a disampaikan KH. Ahmad Djauhari. Beliau mengingatkan kepada jamaah bahwa hendaknya kita memastikan diri menjadi bagian dari barisan orang-orang yang mendapat kemuliaan dari Allah SWT itu.
“Caranya dengan meneguhkan dan mengokohkan tekad serta menggelorakan semangat dan berpartisipasi semaksimal mungkin sesuai potensi dan kemampuan kita dalam perjuangan untuk menerapkan syariah dan merealisasi janji Allah akan tegaknya Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Apalagi pada bulan Rajab, bulan haram ini, yang di dalamnya pahala amal shalih dilipatgandakan.” Pungkasnya. (Rud)

COMMENTS