Oleh : Ibnu Zidnii Sadar merupakan sebuah kata yang sangat penting lagi berguna bagi manusia. Bagaimana tidak? Seorang manusia baru ...
Oleh : Ibnu Zidnii
Sadar merupakan sebuah kata yang sangat penting lagi berguna bagi manusia. Bagaimana tidak? Seorang manusia baru dikatakan “manusia” jika ia mempunyai kesadaran dalam dirinya. Contoh mudah yang sering kita temukan adalah orang gila. Coba perhatikan jika melihat orang gila di jalanan, dengan pede-nya si orang gila bebas berjalan sesuka hati. Baju compang-camping, tidak mandi, bahkan telanjang pun, ia akan tetap berjalan dengan lugunya. Tidak lain karena ia sedang tidak sadar. Dan ia tidak akan berdosa atas perbuatannya itu.
Saking pentingnya sebuah kesadaran, malaikat tidak akan mencatat perbuatan manusia melainkan mereka dalam keadaan sadar. Sebagaimana sabda Nabi SAW. dalam sebuah hadits : “Diangkat pena (pencatat amal) atas tiga perkara, (yaitu) orang tidur sampai ia terbangun, anak kecil sampai ia baligh, dan orang gila sampai ia sembuh (waras).”
Nah, itulah sekilas mengenai kesadaran. Namun fokus pembahasan topik pada tulisan kali ini bukan pada definisi dari kesadaran, melainkan bagaimana jika ada manusia yang jasad dan pikirannya masih sadar, tapi pada hakikatnya mereka sedang tidak sadar dan tidak berupaya untuk menyadari.
Orang semacam itulah yang Allah gambarkan sebagai orang-orang yang hatinya telah mengeras, mempunyai hati namun tidak digunakan untuk memahami tujuan kehidupannya. Merasa hidup hanya untuk having fun semau gue. Mengejar kehidupan dunia, menumpuk harta dan kekayaan yang entah halal atau haram hukumnya. Mereka tidak akan peduli. Seolah-oleh apa yang mereka kerjakan tidak dimintai pertanggung jawaban kelak. Mereka telah lupa, bahwa semua yang bernyawa pasti akan mati. Lalu segala yang mereka miliki dan mereka usahakan tidak akan dibawa dan sirna. Hal ini telah ditegaskan oleh Baginda SAW. dalam sabdanya : “Jika anak cucu Adam mati, maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga, (yaitu) anak yang sholeh yang selalu mendoakannya, amal jariyah, dan ilmu yang bermanfaat.”
Apakah mereka (manusia) sadar? Ya. mereka sadar. Buktinya mereka masih bisa berpikir, masih bisa menjalankan bisnis, masih bercanda ria dan hidup seperti kebanyakan manusia normal, bahkan masih suka gengsi jika baju yang dikenakan tidak mahal dan bermerek. Namun mereka tidak sadar jika selama ini perbuatan yang telah mereka lakukan adalah sia-sia dan tak mendapat apa-apa di sisi Pencipta kehidupan ini. Allah SWT. Mengapa? Karena syarat diterimanya sebuah amal manusia adalah dua. Pertama, dilakukan dengan cara yang benar. Dalam hal ini tidak dibenarkan menggunakan cara selain apa yang telah dicontohkan dan diperintahkan oleh Rasulullah SAW. Kedua, dilakukan dengan ikhlas. Kabar baiknya, ikhlas hanya akan tercapai jika cara yang digunakan telah benar. Kabar baik kan? Iya dong. Tentunya sebelum itu semua kita harus beriman kepada Allah SWT.
Tapi masalahnya, kedua syarat tadi tidak akan berjalan alias mandeg, jika kita sebagai manusia tidak paham dan tidak sadar bahwa kehidupan yang sedang kita jalani ini semuanya akan kembali dan diminta pertanggung jawaban oleh Allah SWT. Maka diperlukanlah kesadaran dan ilmu untuk memahaminya. Ibarat seseorang yang melakukan perjalanan, dia diberitahu jika syaratnya harus punya kendaraan dan petunjuk arah. Namun ia tidak sadar dan lupa mau kemana. Lah, pasti nyasar kan? Oleh karena itu, mumpung Allah masih memberikan kesempatan untuk berpikir dan mencari tahu hakikat kehidupan, mari manfaatkan waktu ini untuk sama-sama menyadarkan kesadaran kita!
Munculkan pertanyaan paling dasar!
Salah satu cara ampuh dan terbaik yang pernah diteliti oleh para ulama’ (oran-orang berilmu) adalah dengan bertanya kepada diri sendiri, memunculkan pertanyaan dan rasa penasaran dalam hati. Pertanyaan itu bisa disimpulkan menjadi tiga pertanyaan paling mendasar, dan tidak mungkin ada pertanyaan yang lebih dasar daripada ketiga pertanyaan ini. Apa saja? “Darimana kita berasal?”, “Untuk apa kita hidup”, dan “Akan kemana setelah kita mati”.
Sejarah dunia mencatat, bahwa pertanyaan-pertanyaan tadi hanya terjawab dengan tiga versi yang berbeda antara satu sama lain. Yaitu jawaban ala Islam, ala kapitalisme (keyakinan manusia jika agama hanya mengatur urusan ibadah ritual), dan yang terakhir adalah jawaban ala komunisme (keyakinan manusia bahwa hidup berasal dari materi dan tidak ada Tuhan yang Menciptakan kehidupan itu).
Islam mengajarkan, bahwa hidup di dunia ini semua berasal dari Allah SWT. Hidup hanya untuk beribadah (bukan hanya ritual, namun semua aktifitas yang diniatkan untuk Allah juga disebut ibadah) saja. Dan yang terakhir, setelah kehidupan dunia ada kehidupan akhirat (alam barzakh, yaumul hisab, shirathal mustaqim, surga dan neraka).
Kapitalisme beranggapan serta yakin bahwa kehidupan dunia diciptakan dan berasal dari Tuhan. Begitu pula setelah kehidupan dunia, mereka juga yakin akan adanya alam akhirat. Tapi, ada tapinya nih. Mereka tidak setuju dan tidak yakin jika hidup di dunia harus dengan aturan Tuhan. Tuhan hanya berperan sebagai Pencipta, bukan Pengatur. Jadi hidup di dunia harus dengan aturan manusia sendiri. Tuhan gak boleh ikut campur.
Yang terakhir adalah komunisme, yang beranggapan bahwa kehidupan ada dengan sendirinya dan berakhir dengan sendirinya. Gak ada yang namanya “Tuhan”. Jadi otomatis mereka tidak mempunyai aturan tentang kehidupan dan pengetahuan tentang alam akhirat. Ini bisa dilihat dari cara mereka mengatur hak-hak dalam bermasyarakat dan lain sebagainya; yang bisa di cek sejarahnya di “Mbah Google”.
Singkat cerita, seorang manusia akan mampu bangkit dan sadar dalam kehidupannya, jika pertanyaan tadi terjawab dengan jawaban yang memuaskan akalnya, sesuai dengan fitrah manusia, dan menentramkan hatinya. Jika tiga syarat ini tidak terpenuhi dalam jawaban tadi, maka jawaban tersebut sudah pasti salah dan tidak akan mampu menyadarkan diri seorang manusia. Malah sebaliknya, akan menyebabkan keterpurukan dan kehancuran. Maka, jawaban yang memenuhi tiga syarat tadi hanyalah jawaban yang diajarkan oleh Islam. Loh? Kok gitu sih? Iya. Karena jawabannya memenuhi kriteria jawaban yang benar, karena bukan berasal dari pemikiran manusia (yang sifatnya terbatas), melainkan berasal dari wahyu dan petunjuk dari Allah melalui risalah Rasul-Nya.
Jadi agar manusia itu mampu bangkit dan sadar, tidak ada jalan lain selain menyadarkan kesadarannya, meluruskan pemikirannya. Hanya itulah satu-satunya jalan yang benar dan pasti. Yang akan merubah tindak-tanduk perilaku manusia menuju perilaku yang benar secara syari’at serta bagus dalam masyarakat; dan akan mengundang ridho Allah untuk menurunkan rahmatnya kepada manusia agar selamat di dunia maupun di akhirat.
Wallahu A’laamu bish-Showwab.
*Selesai ditulis pada tanggal 17 Juli 2019, dirumah arjasa-Jember. Pukul 22.07
-Ibnu Zidnii-

COMMENTS