Oleh: Ghea Ardyanda Pajak semakin mencekik rakyat, berita yang cukup membuat geleng kepala terjadi di Palembang. Bagaimana tida...
Oleh: Ghea Ardyanda
Pajak semakin mencekik rakyat, berita yang cukup membuat geleng kepala terjadi di Palembang. Bagaimana tidak, penjual pempek di palembang pun dikenai pajak yang cukup besar, yakni 10% . Ini tentu semakin memperkuat pertanda kolaps nya negeri ini, bahkan untuk memaksimalkan penarikan pajak sampai disebar ratusan alat pemantau pajak online.
Pajak semakin mencekik rakyat, berita yang cukup membuat geleng kepala terjadi di Palembang. Bagaimana tidak, penjual pempek di palembang pun dikenai pajak yang cukup besar, yakni 10% . Ini tentu semakin memperkuat pertanda kolaps nya negeri ini, bahkan untuk memaksimalkan penarikan pajak sampai disebar ratusan alat pemantau pajak online.
Sayangnya, ini tak berlaku untuk pengusaha
kelas kakap yang pajaknya akan dijanjikan turun oleh jokowi selaku pemegang
tampuk kekuasaan. Miris bukan, rakyat dipalak sedangkan pihak perusahaan
dilepaskan pajaknya.
Belum cukup sampai disini, selain
meninggikan pajak nyatanya banyak dari BUMN yang merugi sebut saja krakatau
steel. Krakatau steel yang notabene adalah BUMN justru dibunuh, dengan
mengimpor baja dan besi dengan kualitas yang sama namun harga lebih rendah.
Jikalau negeri, pajak semakin meninggi maka
bisa dikatakan negara itu telah kolaps atau menuju kesana. Lihat saja bagaimana
Persia menjelang kehancurannya, yang meninggikan pajak. Pun demikian dengan
kondisi saat negeri ini dijajah, apa beda dengan semua itu ?
Padahal, justru dalam Islam pajak bukanlah
pendapatan utama dalam suatu negeri. Pengelolaan kepemilikan diatur untuk
memenuhi kebutuhan dalam negeri, sumber daya alam adalah kepemilikan umum yang
dikelola oleh negara untuk kemudian dikembalikan kepada ummat.
COMMENTS