Jagat Nusantara kembali dihebohkan dengan viralnya buku "How Democracy Die?" yang dibaca Oleh Gubernur Anies Baswedan. Buku ka...
Jagat Nusantara kembali dihebohkan dengan viralnya buku "How Democracy Die?" yang dibaca Oleh Gubernur Anies Baswedan. Buku karangan Stevent Levitsky dan Daniel Ziblatt, Ilmuwan politik asal Harvard University memaparkan bagaimana demokrasi bisa mati. Menariknya, kematian demokrasi bukanlah karena faktor eksternal namun justru karena faktor internal penguasa yang berubah menjadi Tirani kekuasaan yang dianggap menyalahi prinsip² ala demokrasi.
Namun, benarkah demokrasi hanya akan mati atas hal demikian? Benarkah prinsip demokrasi benar-benar sakral atau justru prinsip demokrasi lah yang sebenarnya sedari awal sudah rusak dan cacat? Sementara di sisi lain, fajar kebangkitan Islam semakin menampakkan sinarnya dengan semakin kokohnya Ummat memperjuangkan kembalinya Khilafah.
Senin, 7 Desember 2020, Komunitas Literasi Sejarah Islam bekerja sama dengan Suargo Channel menghadirkan diskusi publik untuk mengulas secara apik dan ideologis fenomena tersebut dengan tema : *"Democracy Die : Time for Rising Caliphate"*, bersama narasumber Prof Suteki, Ust Budi Mulyana, dan KH M Ismail Yusanto. Acara ini telah ditonton oleh ribuan netizen dari platform Youtube maupun dari Zoom.
Profesor Suteki sebagai pakar hukum dan filsafat Pancasila mengawali dengan menyampaikan fakta keburukan demokrasi. “Sistem yang baik harus ditentukan terlebih dahulu sebelum mengharapkan ada pribadi yang baik untuk memimpin sistem, karena sistem menjadi kunci.” Ujar beliau, Beliau lalu menerangkan tentang Sistem yang terbaik adalah yang berasal dari Allah.
Pesan Beliau di akhir sesi yaitu tentang tugas muslim ketika menyaksikan kondisi ideologi selain Islam yang sedang sekarat, diperlukan persiapan, penyadaran agar mampu membangkitkan peradaban yang pernah jaya dengan sebaik baiknya yaitu mempersiapkan Khilafah Ala Minhaj Nubuwah. “Tidak ada perubahan tanpa ikhitiar yang kuat dan persiapan yang harus matang” Tegas Beliau.
Pemateri kedua yaitu Ust Budi Mulyana sebagai pengamat politik Internasional. Beliau memaparkan bahwa Demokra adalah sistem yang mendunia, digunakan oleh Amerika serikat untuk mendemokrasikan seluruh negara yang ada di dunia namun kecacatan demokrasi telah nampak. Beliau melanjutkan tentang ideologi yang dimiliki oleh umat Islam juga sebagai sistem yang sempurna yang telah dijalankan berabad abad oleh para sahabat dan generasi penerusnya menunjukkan kegemilangan tak hanya untuk umat islam namun juga untuk umat manusia, “Khilafah adalah sistem yang mulia” tegas beliau. “Islam menyatukan urusan kehidupan dengan agama, berbeda sekali dengan sistem demokrasi yang sekuler. Maka sudah dipastikan penegakkan sistem Islam yaitu Khilafah akan mendatangkan kebaikan bagi seluruh alam” ujar beliau dalam Closing Statement di akhir sesi acara
Pemateri terakhir yaitu KH M Ismail Yusanto, Cendekiawan Muslim, beliau menyampaikan salah satu Hadits Rasul yaitu tentang setia pada kebenaran,
إِنَّ رَحَى الإِسْلامِ دَائِرَةٌ، فَدُورُوا مَعَ الْكِتَابِ حَيْثُ دَارَ، أَلاَّ إِنَّ الْكِتَابَ وَالسُّلْطَانَ سَيَفْتَرِقَانِ، فَلا تُفَارِقُوا الْكِتَابَ، أَلاَّ إِنَّهُ سَيَكُونُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ يَقْضُونَ لأَنْفُسِهِمْ مَا لا يَقْضُونَ لَكُمْ، إِنْ عَصَيْتُمُوهُمْ قَتَلُوكُمْ، وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ أَضَلُّوكُمْ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَيْفَ نَصْنَعُ؟ قَالَ:كَمَا صَنَعَ أَصْحَابُ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ، نُشِرُوا بِالْمَنَاشِيرَ، وَحُمِلُوا عَلَى الْخَشَبِ، مَوْتٌ فِي طَاعَةِ اللَّهِ خَيْرٌ مِنْ حَيَاةٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ.
“Sungguh sumbu Islam itu senantiasa berputar. Karena itu berputarlah kalian bersama al-Kitab (al-Quran) sebagaimana dia berputar. Ingatlah, al-Quran dan kekuasaan akan berpisah. Karena itu janganlah kalian memisahkan diri dari al-Quran. Ingatlah, sungguh akan ada atas kalian para pemimpin yang memutuskan untuk diri mereka sendiri dengan putusan yang berbeda untuk kalian. Jika kalian menentang mereka, mereka akan membunuh kalian. Jika kalian menaati mereka, mereka akan menyesatkan kalian (HR ath-Thabarani dan al-Haitsami).”
“Terlihat jelas apa yang terjadi saat ini tatkala Al Quran berpisah dari Penguasa, yaitu lahirlah Penguasa yang Dzolim” tegas beliau. Beliau lalu melanjutkan menyampaikan hadits untuk menyikapi hadits diatas sebelumnya
كَمَا صَنَعَ أَصْحَابُ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ، نُشِرُوا بِالْمَنَاشِيرَ، وَحُمِلُوا عَلَى الْخَشَبِ، مَوْتٌ فِي طَاعَةِ اللَّهِ خَيْرٌ مِنْ حَيَاةٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ
Lakukanlah sebagaimana yang dilakukan oleh para pengikut Isa bin Maryam. Mereka digergaji dan disalib di tiang kayu (tetapi mereka tetap bersabar, red.). Mati dalam ketaatan kepada Allah adalah lebih baik daripada hidup dalam kemaksiatan kepada Allah (HR ath-Thabarani dan al-Haitsami).
“Inilah yang dipesankan oleh Rasulullah saw. kepada kita. Kita diminta bersikap sebagaimana kaum nabi Isa, meskipun didera dengan berbagai kezaliman, mereka tak sejengkal pun mundur dari ketaatan kepada Allah SWT. Mereka pantang tunduk kepada penguasa yang zalim. Dalam hadis di atas Rasulullah saw. menyebutkan bahwa mati dalam ketaatan kepada Allah SWT adalah lebih baik ketimbang hidup dalam kemaksiatan kepada-Nya, apalagi dengan mendukung kezaliman penguasa serta membiarkan Kitabullah terpisah dari kekuasaan.” Tegas beliau
Setelah
pemaparan materi dari masing masing narasumber, acara dilanjutkan dengan tanya
jawab oleh netizen di platform Youtube maupun Zoom. Netizen sangat antusias
dalam sesi ini, terlihat banyak pertanyaan yang di ajukan baik melalui Zoom
maupun Youtube, dan dijawab dengan memuaskan oleh Narasumber. Akhir sesi
ditutup oleh doa yang dibacakan oleh Ust Imam Sanusi.

COMMENTS