Jika melihat geopolitik Timur Tengah hari ini, muncul sebuah pertanyaan yang wajar: mengapa sejumlah negara Arab Muslim memberikan akses...
Jika melihat geopolitik Timur Tengah hari ini, muncul sebuah pertanyaan yang wajar: mengapa sejumlah negara Arab Muslim memberikan akses pangkalan militer, pelabuhan, wilayah udara, dan fasilitas logistik kepada Amerika Serikat, sementara Amerika dikenal sebagai sekutu penting Israel?
Jawabannya tidak sesederhana bahwa negara-negara Arab tersebut “memilih Amerika daripada Palestina”. Hubungan itu terbentuk melalui proses sejarah yang panjang, melibatkan kepentingan keamanan, minyak, Perang Dingin, perubahan kekuatan regional, dan terutama Perang Teluk 1990–1991.
Menariknya, sebagian hubungan militer Amerika dengan negara-negara Arab bahkan dimulai sebelum berdirinya Israel pada 1948.
Awal Kehadiran Amerika di Dunia Arab
Salah satu contoh paling awal adalah hubungan Amerika Serikat dengan Arab Saudi.
Pada masa Perang Dunia II, kepentingan Amerika terhadap kawasan Teluk semakin besar. Selain posisi geografisnya yang strategis, kawasan tersebut memiliki cadangan minyak yang sangat besar.
Pada 1945, Amerika dan Arab Saudi mencapai kesepakatan mengenai pembangunan fasilitas udara di Dhahran. Pada masa itu, Israel bahkan belum berdiri.
Artinya, kehadiran militer Amerika di kawasan Arab tidak sejak awal dibangun karena Israel.
Awalnya, kepentingannya lebih berkaitan dengan perang, minyak, jalur strategis, dan meningkatnya posisi Amerika sebagai kekuatan global setelah Perang Dunia II.
Ketika Inggris Mundur, Amerika Mengisi Ruang Strategis
Setelah Perang Dunia II, kekuatan Inggris di Timur Tengah secara bertahap melemah. Amerika Serikat kemudian semakin mengambil peran dalam menjaga kepentingan strategis Barat di kawasan.
Kehadiran Amerika di kawasan Teluk pun berkembang secara bertahap.
Bahrain menjadi salah satu contoh penting. Setelah Inggris meninggalkan Bahrain pada 1971, Amerika memperoleh akses terhadap fasilitas yang sebelumnya digunakan Inggris. Dalam perkembangan berikutnya, Bahrain menjadi lokasi penting bagi Angkatan Laut Amerika Serikat.
Fasilitas tersebut kemudian berkembang menjadi Naval Support Activity Bahrain dan menjadi markas US Fifth Fleet.
Revolusi Iran Mengubah Peta Timur Tengah
Salah satu titik balik besar terjadi pada 1979 ketika Revolusi Iran menggulingkan pemerintahan Shah dan melahirkan Republik Islam Iran.
Iran yang sebelumnya merupakan salah satu mitra penting Amerika berubah menjadi lawan geopolitik Washington.
Perubahan tersebut memiliki dampak besar bagi negara-negara Arab di Teluk.
Iran merupakan negara besar dengan posisi strategis yang menghadap Teluk Persia. Sementara itu, negara-negara seperti Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab memiliki wilayah dan populasi yang jauh lebih kecil.
Ketimpangan tersebut membuat persoalan keamanan menjadi perhatian utama.
Perang Iran–Irak
Pada 1980, Irak di bawah Saddam Hussein menyerang Iran.
Perang Iran–Irak berlangsung selama delapan tahun dan menjadi salah satu konflik paling berdarah di Timur Tengah pada abad ke-20.
Perang tersebut juga memperkuat kecenderungan negara-negara Teluk untuk mencari dukungan keamanan dari kekuatan eksternal.
Amerika Serikat melihat kawasan Teluk sebagai wilayah yang sangat penting bagi kepentingan ekonominya dan stabilitas perdagangan dunia.
Dari sinilah hubungan keamanan antara Washington dan negara-negara Arab Teluk semakin berkembang.
Titik Balik: Irak Menyerang Kuwait
Peristiwa yang mengubah hubungan Amerika dengan negara-negara Teluk secara drastis terjadi pada 2 Agustus 1990.
Pada tanggal tersebut, Irak menginvasi Kuwait.
Kuwait yang merupakan negara kecil tidak mampu menghadapi kekuatan militer Irak sendirian.
Amerika Serikat kemudian memimpin koalisi internasional dalam operasi untuk mengusir pasukan Irak dari Kuwait.
Perang tersebut berakhir pada Februari 1991 dengan keluarnya pasukan Irak dari Kuwait.
Namun, konsekuensi geopolitiknya jauh lebih panjang.
Pasukan Amerika di Arab Saudi
Ketika pasukan Irak berada di Kuwait, Arab Saudi menghadapi kekhawatiran bahwa wilayahnya juga dapat menjadi sasaran.
Saudi kemudian memberikan izin bagi pengerahan pasukan Amerika dalam jumlah besar ke wilayahnya.
Dari perspektif pemerintah Saudi, kerja sama tersebut merupakan bagian dari strategi mempertahankan keamanan negara.
Namun keputusan tersebut juga menimbulkan kontroversi besar di kalangan masyarakat Muslim.
Sebab, untuk pertama kalinya dalam skala besar pada era modern, pasukan Amerika ditempatkan di wilayah Arab Saudi yang memiliki posisi sangat sensitif karena terdapat Makkah dan Madinah.
Peristiwa inilah yang kemudian menjadi salah satu persoalan penting dalam perkembangan gerakan oposisi terhadap kehadiran Amerika di kawasan.
Kuwait dan Amerika Setelah Perang Teluk
Setelah Kuwait dibebaskan, hubungan pertahanan Kuwait dengan Amerika semakin erat.
Pada 1991, kedua negara menandatangani perjanjian kerja sama pertahanan.
Kuwait kemudian menjadi salah satu titik penting bagi logistik dan pengerahan pasukan Amerika di kawasan.
Dari sudut pandang pemerintah Kuwait, pengalaman invasi Irak memberikan alasan kuat untuk mempertahankan hubungan keamanan dengan Amerika.
Dengan kata lain, hubungan tersebut tidak hanya berkaitan dengan Israel. Pengalaman Kuwait diserang Irak secara langsung menjadi faktor yang sangat penting.
Uni Emirat Arab
Uni Emirat Arab juga memperkuat hubungan pertahanan dengan Amerika.
Pada 1990-an, kerja sama pertahanan kedua negara semakin berkembang. Fasilitas seperti Al Dhafra Air Base kemudian menjadi penting bagi operasi militer Amerika di kawasan.
UEA juga menyediakan akses terhadap fasilitas pelabuhan dan dukungan logistik.
Hubungan tersebut memberikan keuntungan bagi kedua pihak.
Amerika memperoleh akses strategis ke Teluk, sementara UEA memperoleh akses terhadap teknologi militer, pelatihan, persenjataan, dan kerja sama keamanan dengan kekuatan militer terbesar dunia.
Bahrain dan US Fifth Fleet
Bahrain memiliki posisi geografis yang sangat penting.
Negara kecil tersebut berada di Teluk dan dekat dengan jalur strategis yang menghubungkan kawasan minyak Timur Tengah dengan Samudra Hindia.
Karena itu, Bahrain menjadi tempat penting bagi Angkatan Laut Amerika.
US Fifth Fleet yang bermarkas di Bahrain memainkan peran dalam operasi maritim Amerika di kawasan Teluk dan sekitarnya.
Dengan demikian, Bahrain bukan sekadar lokasi pangkalan biasa. Ia merupakan bagian dari jaringan maritim Amerika di Timur Tengah.
Qatar dan Al Udeid
Qatar kemudian menjadi salah satu lokasi paling penting bagi operasi militer Amerika di Timur Tengah.
Al Udeid Air Base berkembang menjadi fasilitas strategis Amerika yang memiliki fungsi penting dalam operasi udara dan komando militer.
Keberadaan fasilitas tersebut membuat Qatar memiliki hubungan keamanan yang sangat erat dengan Washington.
Jika seluruh fasilitas tersebut dilihat secara bersama-sama, terlihat sebuah jaringan:
- Bahrain — pusat penting bagi operasi angkatan laut Amerika.
- Qatar — fasilitas udara dan pusat komando strategis.
- Kuwait — fasilitas logistik dan pengerahan pasukan.
- UEA — fasilitas udara, pelabuhan, dan dukungan logistik.
- Arab Saudi — kerja sama pertahanan dan keamanan.
- Oman — akses strategis dan kerja sama militer.
Lalu Bagaimana dengan Israel?
Di sinilah persoalan menjadi lebih kompleks.
Amerika Serikat memang memiliki hubungan yang sangat erat dengan Israel. Hubungan tersebut meliputi kerja sama diplomatik, ekonomi, teknologi, dan militer.
Namun, hubungan Amerika dengan negara-negara Arab Teluk tidak dapat dijelaskan hanya melalui hubungan Amerika-Israel.
Negara-negara tersebut memiliki kepentingan keamanan sendiri.
Arab Saudi memiliki persoalan keamanan regionalnya sendiri.
Kuwait memiliki pengalaman langsung ketika negaranya diduduki Irak.
UEA memiliki kepentingan terhadap stabilitas kawasan dan kemampuan pertahanan.
Bahrain memiliki posisi geografis yang strategis.
Qatar membutuhkan hubungan keamanan dengan kekuatan besar sekaligus mempertahankan posisi geopolitiknya.
Karena itu, pemerintah negara-negara tersebut dapat memiliki hubungan keamanan dengan Amerika sekaligus memiliki sikap atau kebijakan tertentu terhadap persoalan Palestina.
Aliansi Tidak Selalu Berarti Semua Kepentingan Sama
Dalam hubungan internasional, dua negara dapat bekerja sama dalam satu bidang tanpa memiliki pandangan yang sama mengenai seluruh persoalan.
Arab Saudi dan Amerika dapat bekerja sama dalam pertahanan.
Qatar dan Amerika dapat bekerja sama dalam bidang militer.
UEA dan Amerika dapat bekerja sama dalam keamanan.
Tetapi itu tidak otomatis berarti seluruh kebijakan politik kedua pihak selalu identik.
Hal yang sama berlaku terhadap persoalan Israel dan Palestina.
Hubungan keamanan Amerika dengan negara Arab merupakan satu persoalan, sementara sikap masing-masing negara terhadap konflik Palestina-Israel merupakan persoalan lain yang saling beririsan tetapi tidak identik.
Faktor yang Sering Dilupakan: Keamanan Pemerintah
Ada satu faktor penting lainnya: keamanan negara dan keberlangsungan pemerintahan.
Negara-negara Teluk menghadapi lingkungan regional yang penuh konflik dan persaingan kekuatan.
Karena itu, kerja sama dengan Amerika memberikan sejumlah kemampuan yang sulit dibangun sendiri dalam waktu singkat, seperti:
- pertahanan udara;
- intelijen;
- pelatihan militer;
- teknologi persenjataan;
- dukungan logistik;
- kemampuan pengawasan;
- kerja sama antiterorisme;
- dukungan diplomatik dan strategis.
Sebagai gantinya, Amerika mendapatkan akses terhadap fasilitas militer, wilayah udara, pelabuhan, jalur logistik, serta posisi strategis yang sangat penting bagi operasi Amerika di Timur Tengah.
Pemerintah Tidak Selalu Sama dengan Rakyat
Hal lain yang perlu dibedakan adalah pemerintah dengan masyarakat.
Di berbagai negara Arab, terdapat masyarakat yang sangat kuat mendukung Palestina dan menolak kebijakan Israel.
Namun sikap masyarakat tidak selalu identik dengan keputusan strategis pemerintah.
Inilah salah satu paradoks politik Timur Tengah:
Masyarakat dapat memiliki solidaritas yang kuat terhadap Palestina, sementara pemerintah tetap mempertahankan kerja sama keamanan dengan Amerika Serikat.
Keduanya dapat terjadi secara bersamaan karena pemerintah mempertimbangkan kepentingan negara, keamanan, ekonomi, dan keseimbangan kekuatan regional.
Garis Besar Sejarahnya
- 1945 — kerja sama Amerika–Saudi dan pembangunan fasilitas udara di Dhahran berkembang pada masa Perang Dunia II.
- 1948 — Israel berdiri.
- 1949 — Amerika memperkuat kehadiran angkatan lautnya di kawasan melalui Middle East Force.
- 1971 — Inggris meninggalkan Bahrain dan Amerika mempertahankan akses terhadap fasilitas strategis di sana.
- 1979 — Revolusi Iran mengubah keseimbangan kekuatan kawasan.
- 1980–1988 — Perang Iran–Irak meningkatkan ketegangan keamanan di Teluk.
- 1990 — Irak menginvasi Kuwait.
- 1991 — koalisi pimpinan Amerika mengusir Irak dari Kuwait.
- 1990-an dan seterusnya — kerja sama militer Amerika dengan negara-negara Teluk semakin berkembang.
- 2000-an hingga sekarang — jaringan pangkalan, fasilitas logistik, kerja sama pertahanan, dan operasi militer Amerika di kawasan semakin terintegrasi.
Jadi, Mengapa Mereka Memberikan Fasilitas kepada Amerika?
Jika seluruh sejarah tersebut dirangkum, jawabannya bukan satu faktor.
Hubungan tersebut terbentuk dari kombinasi:
- kepentingan minyak dan perdagangan;
- posisi geografis Teluk;
- warisan kehadiran Inggris;
- Perang Dingin;
- Revolusi Iran;
- Perang Iran–Irak;
- invasi Irak ke Kuwait;
- kebutuhan pertahanan negara-negara kecil Teluk;
- pembelian dan transfer teknologi militer;
- serta kepentingan strategis Amerika mempertahankan pengaruhnya di Timur Tengah.
Israel merupakan bagian penting dalam geopolitik Amerika di Timur Tengah, tetapi sejarah pangkalan Amerika di negara-negara Arab tidak bermula dari Israel.
Justru sejarahnya menunjukkan bahwa hubungan tersebut telah berkembang sejak masa sebelum Israel berdiri, lalu semakin dalam karena perubahan keseimbangan kekuatan di kawasan.
Paradoks Geopolitik Timur Tengah
Di sinilah salah satu paradoks terbesar Timur Tengah modern terlihat.
Di satu sisi, Amerika memiliki hubungan militer yang sangat erat dengan Israel.
Di sisi lain, Amerika juga memiliki jaringan fasilitas militer yang sangat luas di negara-negara Arab dan Muslim.
Negara-negara tersebut pada saat yang sama dapat memiliki hubungan keamanan dengan Washington, kepentingan ekonomi dengan Amerika, dan hubungan politik yang berbeda mengenai Palestina.
Karena itu, untuk memahami politik Timur Tengah secara utuh, kita tidak cukup hanya melihat pertanyaan “siapa sekutu Israel?”
Kita juga perlu melihat pertanyaan yang lebih mendasar:
Siapa yang memberikan keamanan, siapa yang menguasai teknologi militer, siapa yang mengendalikan jalur strategis, siapa yang membutuhkan siapa, dan bagaimana keseimbangan kekuatan kawasan dibentuk?
Dari sanalah kita dapat memahami mengapa jaringan pangkalan militer Amerika di dunia Arab bisa bertahan selama puluhan tahun, bahkan ketika dukungan Amerika terhadap Israel menjadi salah satu sumber kontroversi terbesar di Timur Tengah.

COMMENTS